Lintas Aktivis Serikat Buruh Digojlok Materi Pemetaan Isu Media

Materi pelatihan selama dua hari juga langsung disampaikan Tula Connel, pakar komunikasi dan mantan jurnalis dari Amerika Serikat. Dalam pemaparan materinya, Tulla menjelaskan, seorang aktivis buruh tidak hanya unggul dalam melakukan advokasi buruh. Aktivis buruh juga harus bisa mengimplementasikan gagasan perjuangannya lewat media online dan media sosial lewat bentuk tulisan maupun video.

Terlebih lagi, di era kemajuan teknologi digital, media online dan media sosial sangat cepat menjangkau komunikasi ke seluruh masyarakat dunia. Sehingga, kampanye perjuangan yang sedang dilakukan lebih efektif. “Karena mau tidak mau media adalah bagian alat perjuangan, sehingga masyarakat nantinya masyarakat bisa ikut bersimpati untuk membela kepentingan dan hak buruh yang sedang diperjuangkan,” ujarnya, di Hotel Athalia, Cipayung, Bogor, Jawa Barat.

Begitu juga, berdasarkan hasil dari beberapa  lembaga riset media, sebenarnya masyarakat Indonesia salah satu pengguna media sosial, termasuk pengurus dan anggota serikat buruh, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp tertinggi di dunia. Nah, kalau media sosial dijadikan ajang kampanye organisasi akan sangat berdampak luas terhadap publik hingga bisa mempengaruhi kebijakan.

Intinya, selama dua hari Tulla memberikan materi komunikasi media, memang tujuannya untuk mempertajam aktivis buruh dalam teknik penulisan materi berita yang akan disampaikan ke media dan publik. Agenda workshop itu juga langsung diberikan praktik materi pembahasan target advokasi yang sedang diperjuangkan serikat buruh di Indonesia, yang nantinya akan dikabarkan lewat media online dan media sosial. Seperti membahas, tentang target kampanye anti eksploitasi Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan sahkan RUU PRT, tolak sistem kerja magang dalam perusahaan dan isu-isu strategis lainnya.

Berdasarkan pantauan, peserta yang mengikuti workshop dari perwakilan lintas federasi serikat buruh seperti KSBSI, KSPSI, KSPI dan serikat buruh lainnya terlihat sangat animo mengikuti berbagai materi yang diberikan. Pada umumnya, mereka yang mengikuti workshop sangat berharap kedepannya akan ada pelatihan strategi komunikasi tingkat lanjut, agar bisa lebih menguasai teknik dan strategi komunikasi publik. (Sumber : http://www.ksbsi.org A1)