Visitor Counter:

Visitor Maps:

Visitor Tracker:

Harga Nikel Menguat, Laba Bersih Vale Indonesia Melonjak 100,7 Persen
Publish date: 06 Jun 2022, Author : fpesbsi
 

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kinerja keuangan yang positif selama kuartal I 2022 seiring  pertumbuhan pendapatan dan laba bersih naik signifkan. Adapun kenaikan laba bersih tersebut didorong lonjakan harga nikel.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) ditulis Rabu (11/5/2022), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan pendapatan USD 235,08 juta atau setara Rp 3,42 triliun (asumsi kurs Rp 14.551 per dolar AS) pada kuartal I 2022. Realisasi pendapatan tersebut naik 13,8 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar USD 206,55 juta atau sekitar Rp 3 triliun.

Pertumbuhan pendapatan itu didukung lonjakan laba bersih selama kuartal I 2022. Perseroan mencatat pertumbuhan laba bersih 100,7 persen menjadi USD 67,64 juta atau setara Rp 983,45 miliar dibandingkan kuartal I 2021 sebesar USD 33,69 juta atau setara Rp 489,8 miliar.

Adapun beban pokok pendapatan perseroan turun 8,04 persen menjadi USD 142,35 juta pada kuartal I 2022. Dibandingkan kuartal I 2021 sebesar USD 154,81 juta.

Dalam keterangan resmi, perseroan menyatakan laba bersih yang kuat tersebut didorong harga nikel yang menguntungkan. Perseroan mencatat harga realisasi rata-rata naik menjadi USD 17.432 per ton pada kuartal I 2022, mengalami kenaikan 25,3 dari periode sama tahun sebelumnya USD 13.912 per ton. Sedangkan alami kenaikan 13 persen dari kuartal IV 2021 sebesar USD 15.372 per ton.

Namun, produksi nikel dalam matte perseroan turun 9,02 persen menjadi 13.827 metrik ton pada kuartal I 2022 dari periode sama tahun sebelumnya 15.198 per ton. Demikian juga penjualan nikel dalam matte susut 9,16 persen menjadi 13.486 metrik ton pada kuartal I 2022 dibandingkan tahun sebelumnya 14.847 metrik ton.

 

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat pertumbuhan pendapatan dan lonjakan laba bersih pada kuartal I 2022. Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Sementara itu, perseroan mencatat kenaikan earning before interest, tax, depreciation, and amortization (EBITDA) 30,70 persen menjadi USD 116,2 juta pada kuartal I 2022 dibandingkan kuartal I 2021 sebesar USD 88,9 juta.

“Meskipun produksi lebih rendah karena sedang berlangsungnya pembangunan kembali tanur listrik 4, kami mampu menghasilkan EBITDA yang lebih tinggi, laba yang lebih tinggi dan saldo kas yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujar CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy.

Ia menambahkan, saldo kas yang kuat akan memungkinkan perseroan menjalankan rencana pertumbuhan saat ini dan ke depan. “Namun, mengingat volatilitas di pasar, kami tetap fokus untuk mengoptimalkan kapasitas produksi kami dan meningatkan efisiensi operasi kami,” ujar dia.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 10 Mei 2022, saham INCO melemah 5,23 persen ke posisi Rp 6.800 per saham. Saham INCO berada di level tertinggi 6.975 dan terendah 6.675 per saham. Total volume perdagangan 56.604.212 saham dan nilai transaksi Rp 382,2 miliar. Total frekuensi perdagangan 18.268 kali.

Sepanjang 2022, saham INCO melonjak 45,30 persen ke posisi Rp 6.800 per saham. Saham INCO berada di level tertinggi Rp 8.800 dan terendah Rp 4.240 per saham. Total volume perdagangan 2.579.658.208 saham. Nilai transaksi Rp 16 triliun. Total frekuensi perdagangan 695.007 kali.

ILUSTRASI :Laporan Keuangan

Sebelumnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja ciamik sepanjang 2021. INCO berhasil mengukuhkan laba yang tumbuh dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba tahun berjalan INCO yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD 167,2 juta atau Rp 2,4 triliun (kurs Rp 14.396 per USD) sepanjang 2021. Naik 112,5 persen dibanding realisasi 2020 sebesar USD 78,69 juta.

Sepanjang 2021, pendapatan INCO tercatat sebesar USD 953,17 juta atau sekitar Rp 13,72 triliun. Angka itu naik 24,64 persen dibandingkan pendapatan 2020 sebesar USD 764,74 juta.

Sejalan dengan naiknya pendapatan, beban pendapatan juga mengalami kenaikan menjadi USD 717,81 juta dari sebelumnya USD 640,37 juta. Sehingga diperoleh laba bruto USD 235,36 juta. Pada periode tersebut, perseroan mencatatkan pendapatan lainnya USD 2,61 juta.

Beban usaha tercatat sebesar 4,2 juta dan beban lainnya USD 20,75 juta. Sehingga diperoleh laba usaha USD 223,02 juta. Naik dari sebelumnya USD 103,85 juta. Setelah dikurangi biaya pendapatan keuangan bersih dan pajak penghasilan, perseroan mencatat laba komprehensif tahun berjalan USD 167,2 juta.

Dari sisi aset Vale Indonesia hingga Desember 2021 tercatat sebesar USD 2,47 miliar, naik dari USD 2,31 di akhir 2020. Terdiri dari aset lancar USD 863,58 juta dan sisanya USD 1,64 miliar merupakan aset tidak lancar. Liabilitas perseroan USD 318,37 juta. Naik dari posisi akhir Desember 2020 sebesar USD 294,27 juta.

Terdiri dari liabilitas jangka pendek USD 168,43 juta dan liabilitas jangka panjang USD 149,94 juta. Sementara ekuitas pada Desember 2021 tercatat sebesar USD 2,15 miliar. Naik dari posisi akhir Desember sebesar USD 2,02 miliar.