Visitor Counter:

Visitor Maps:

Visitor Tracker:

Habis Rontok Sampai 10%, Harga Minyak Melesat 5% Pagi Ini
Publish date: 26 Aug 2021, Author : fpesbsi
 

Harga minyak dunia melesat pada perdagangan pagi ini. Koreksi harga yang sangat dalam membuat investor bernafsu memburu kontrak minyak karena sudah murah.

Pada Selasa (24/8/2021) pukul 06:35 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 68,75/barel. Melonjak 5,48% dibandingkan hari sebelumnya.

Sementara yang jenis light sweet harganya US$ 65,64/barel. Melejit 5,33%.

Sebelumnya, harga si emas hitam terperosok begitu dalam. Bayangkan, harga mengalami koreksi selama tujuh hari beruntun.

Dalam tujuh hari tersebut, harga brent ambles 8,76%. Sedangkan harga light sweet ambrol 10,01%.

Dengan koreksi yang sebegitu parah, harga kontrak minyak tentu sekarang sudah jauh lebih murah. Ini menyebabkan technical rebound, investor berbondong-bondong memborong kontrak minyak. Tingginya permintaan membuat harga bergerak ke utara alias naik.

 

Foto: Pengendara motor mengatre untuk mengisi bahan bakar Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (17/9/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Selain itu, tekanan di pasar keuangan global juga sudah reda. Pekan lalu, tekanan begitu besar karena kuatnya sentimen pengetatan kebijakan atau tapering off oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed.

"Harga minyak berhasil naik seiring dengan penguatan di pasar saham. Tingginya minat terhadap aset berisiko (risk appetite) dan pelemahan kurs dolar AS membuat harga minyak berhasil bangkit," kata Jim Ritterbusch. Presiden Ritterbusch and Associates yang berbasis di Illinois, seperti dikutip dari Reuters.

Akan tetapi, ke depan prospek harga minyak masih abu-abu. Penyebabnya apa lagi kalau bukan pandemi virus corona (Coronavirus Diseasee-2019/Covid-19) yang membuat banyak negara kembali menerapkan pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat.

"Kami melihat harga minyak akan mengalami penyesuaian. Kemungkinan harga masih akan berada dalam tren bearish karena kekhawatiran terhadap penurunan permintaan di berbagai negara," tutur Kazuhiko Saito, Kepala Analis Fujitomi Securities, sebagaimana diwartakan Reuters.(Sumber CNBC Indonesia)