Visitor Counter:

Visitor Maps:

Visitor Tracker:

Pak Luhut Harus Jawab Isu Ini, Faisal Basri Ungkap TKA China dari Tenaga Ahli hingga Tukang Kebun Masuk di Proyek Nikel Sulawesi
Publish date: 30 Jul 2021, Author : fpesbsi
 

Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut, bahwa jumlah tenaga kerja asing (TKA) China yang masuk ke Indonesia untuk proyek nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara lebih dari 3.500 orang.

“Kata Pak Luhut cuma 3.500 pekerja dari China. Sebulan saja lebih dari 1.000 [orang]. Betul barangkali Pak Luhut yaitu 3.500 [orang], tapi hanya mereka yang memiliki izin bekerja. Sebagian besar lainnya tidak memakai izin bekerja, tapi pakai visa kunjungan,” ungkapnya dikutip dari YouTube Refly Harun, dikutip Kamis (29/7/2021).

Dengan demikian, pemberi kerja tidak membayarkan dana kompensasi penggunaan tenaga kerja asing (DKP-TKA) sebesar 100 dolar dolar AS sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atau penerimaan daerah.

Faisal dikutip Bisnis.com juga mengatakan, bahwa para TKA China yang datang bukan hanya berlatar belakang sebagai tenaga ahli, tapi termasuk buruh untuk pekerjaan lapangan seperi sopir forklift, satpam, hingga tukang kebun.

 

Faisal Basri

Terkait validitas informasi yang disampaikan tersebut, Faisal mengaku mendapatkan data dari sumber tepercaya, bahkan sudah disampaikannya kepada staf khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

Kedatangan TKA China Lebih lanjut, atas fakta tersebut, kata Faisal, akhirnya pemerintah mengambil keputusan untuk membatasi orang asing masuk Indonesia termasuk dalam rangka Proyek Strategis Nasional pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menko Marves Luhut memastikan bahwa TKA China di Indonesia lambat laun akan berkurang. Dia mengatakan, China memiliki teknologi di sektor industri yang lebih baik dari Indonesia dan dalam kerja sama investasi bersedia melakukan alih pengetahuan atau transfer knowledge.

“Mereka [China] teknologi lebih maju, kita bisa belajar, tapi kan lama-lama turun [jumlah tenaga kerja China]. Baru setelahnya kita bisa leap frog,” kata Luhut kepada media pada Senin (31/5/2021).(Sumber : Babe)