Visitor Counter:

Visitor Maps:

Visitor Tracker:

Harga jual batubara diprediksi masih suram, ini penyebabnya menurut analis
Publish date: 10 Jun 2020, Author : fpesbsi
 

Harga batubara sempat merangkak naik sepanjang Mei 2020 meski kembali memperlihatkan tanda-tanda penurunan pada pengujung bulan ini. Pada akhir April lalu, harga batubara ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan Agustus 2020, berada di level US$ 54,45 per ton.

Kemudian, harganya naik secara perlahan hingga mencapai US$ 57,35 per ton pada 26 Mei 2020. Sayangnya, harga batubara ICE Newcastle kembali merosot pada dua hari perdagangan berikutnya dan ditutup di level US$ 55,55 per ton pada 28 Mei 2020.

 

 

 

ILUSTRASI. Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di Muarojambi, Jambi.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu memperkirakan, harga batubara dunia hingga akhir 2020 masih akan stagnan pada level US$ 50 per ton. Menurut dia, harga batubara dunia baru bisa naik lagi ketika konsumsi China dan India kembali pulih.

Nantinya, kondisi tersebut dapat mendorong impor batubara oleh kedua negara ini.  "Mengingat, China dan India menyerap cukup besar produk batubara global," ucap Dessy saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (29/5).

Sayangnya, Dessy melihat, permintaan dari kedua pasar tersebut masih akan melambat pada tahun ini. Selain karena penurunan konsumsi akibat pandemi Covid-19, China juga berencana untuk mengurangi impor batubara dan memaksimalkan produksi domestiknya. Alhasil, pasar global batubara masih akan tertekan.

Sementara itu, untuk pasar dalam negeri, ia memperkirakan bakal ada kenaikan permintaan batubara yang didorong oleh kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) seiring dengan potensi naiknya konsumsi domestik. 

"Sekarang pasar domestik memang melambat karena PSBB, tetapi saya perkirakan akan kembali pulih pada semester II-2020," kata Dessy.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa kenaikan permintaan batubara dari pembeli lokal hanya akan mendorong pertumbuhan volume penjualan, bukan harganya. Pasalnya, harga jual acuan komoditas tersebut masih menggunakan harga batubara dunia.

Untuk sektor batubara, Dessy masih memasang rekomendasi underweight karena belum memiliki prospek yang cerah. Ia juga menyarankan, pelaku pasar yang belum punya untuk menghindari saham-saham batubara terlebih dahulu.

Sementara itu, bagi investor yang sudah memiliki saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), ia menyarankan untuk hold sampai pembayaran dividen selesai. 

Dalam sebulan terakhir hingga perdagangan Jumat (29/5), harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tumbuh 5,14% menjadi Rp 1.945 per saham, ADRO melesat 25,71% ke Rp 1.100 per saham, dan ITMG meningkat 17,39% ke Rp 8.100 per saham.(Sumber :KONTAN.CO.ID )